Coach Ady dan Masalah Tim Juara: “Power Saja Tidak Cukup”

Di Free Fire, kekuatan paling mudah terlihat. Satu pemain membuka fight, satu tim menyapu compound, penonton bersorak. Yang sulit terlihat adalah beberapa detik sebelum semua itu terjadi: siapa yang memberi call, siapa yang menahan ego, siapa yang memilih mundur ketika semua orang ingin menabrak, siapa yang cukup tenang untuk berkata, “jangan dulu.”
Adi “Coach Ady” Gustiawan, pelatih RRQ Kazu, menyebutnya dengan kalimat sederhana: power saja tidak cukup.
“Power tanpa kontrol itu seperti mobil kencang tanpa setir dan rem. Di jalan lurus mungkin terlihat hebat. Tapi begitu ada tikungan, kita tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Dalam wawancara eksklusif bersama Free Fire Esports Indonesia, Coach Ady berbicara tentang sisi yang jarang terlihat dari sebuah tim besar: kepercayaan, kontrol emosi, cara berpikir, hingga proses panjang membangun pondasi tim juara.
Menurutnya, ketika tim besar mengalami penurunan performa, masalahnya sering kali bukan soal mekanik atau kemampuan individu. Pemain profesional tentu sudah memahami cara bermain di level tertinggi. Namun di balik hasil pertandingan, ada banyak faktor yang tidak terlihat publik.
“Ketika tim besar turun performa, biasanya problemnya lebih dalam. Bisa soal trust, ego, komunikasi, atau visi yang mulai berbeda. Dan itu tidak bisa selesai hanya dengan satu atau dua game bagus,” jelasnya.
Coach Ady juga menyoroti pentingnya membangun pola pikir pemain, bukan sekadar meningkatkan mekanik. Ia menilai banyak pemain memiliki power besar, tetapi belum memahami kapan harus menggunakan power tersebut dengan tepat.
“Banyak pemain bisa menang fight, tapi belum tentu tahu kenapa fight itu harus diambil. Di level pro, yang paling penting bukan cuma mekanik, tapi cara berpikir yang logis,” katanya.
Sejak bergabung bersama RRQ Kazu, fokus utama Coach Ady bukan hanya membentuk tim yang kuat untuk sesaat, tetapi membangun sistem yang bisa bertahan dalam jangka panjang.
“Saya sering memakai filosofi bambu. Di awal mungkin tidak terlihat tumbuh, tapi di bawah tanah akarnya sedang dibangun. Ketika pondasinya kuat, dia akan tumbuh tinggi dan sulit dijatuhkan,” ungkapnya.
Meski RRQ Kazu konsisten bersaing di papan atas Free Fire Indonesia dan Asia Tenggara, Coach Ady mengakui bahwa target terbesar mereka masih belum tercapai: menjadi juara dunia.
“Target kami tetap sama, di mana pun mainnya dan siapa pun lawannya: juara.”
Di luar soal kompetisi, Coach Ady juga memberi perhatian besar terhadap masa depan para pemain. Menurutnya, karier esports memiliki waktu yang singkat, sehingga pemain harus mulai mempersiapkan kehidupan setelah pensiun sejak dini.
“Kehilangan uang masih bisa dicari lagi. Tapi kalau kehilangan karakter, itu kehilangan semuanya,” tutup Coach Ady.
Wawancara ini menunjukkan bahwa membangun tim juara di Free Fire bukan hanya soal aim dan agresivitas. Di level tertinggi, kemenangan lahir dari kontrol, kepercayaan, serta proses panjang yang dibangun bersama sebagai satu tim.

